Prihatin
melihat maraknya pengangguran di lingkungan sekitar tempat tinggalnya,
Nathanael Nico terdorong untuk memberdayakan mereka. Sejak 2008, aktivis
gereja di Bandung, Jawa Barat ini membuat program pemberdayaan bagi
para pengangguran dan remaja putus sekolah.
Untuk
menggarap program itu, ia pun melibatkan Yayasan Benih Indonesia.
Program pengentasan pengangguran ini dilakukan secara bertahap. Tahap
awal fokus membentuk mental para pengangguran agar memiliki etos kerja.
Setelah
semangat etos kerja terbentuk, ia pun memberikan pelbagai keterampilan
wirausaha. Misalnya, keterampilan membuat camilan jamur, dan donat.
Awalnya, ada ratusan pengangguran yang ikut dalam program pelatihannya
ini. Tapi, tidak semuanya bertahan.
Selain
ada yang keluar, beberapa juga ada yang membuka usaha sendiri. Saat
ini, tinggal tersisa 15 orang yang masih ikut dengan Nico. Untuk
mengaplikasikan teori yang didapat selama pelatihan, tahun lalu Nico
mengajak mereka untuk terjun ke bisnis makanan.
Ia
pun merambah bisnis camilan jamur dengan merek Serasa dan bisnis donat
dengan brand Nico. Selain bisnis makanan, ia juga sempat mendirikan
bisnis air minum isi ulang. Sayangnya, bisnis camilan jamur dan air
minum isi ulangnya tidak berjalan maksimal. Beda dengan bisnis donatnya
yang terus berkembang.
Bila
awalnya hanya memproduksi donat untuk dijajakan dari rumah ke rumah,
kini ia berhasil mendirikan kafe “Donat Nico”. Kafe ini baru beroperasi
Oktober ini. “Target produksi kami maksimal bisa mencapai 1.000 donut
per hari,” ucapnya.
Saat
ini, ia baru bisa menjual sekitar 300 donat per hari dengan harga
satuan Rp 5.500. Adapun omzet bulanannya mencapai sekitar Rp 49,5 juta.