Sekolah mendidik manusia untuk mengetahui sesuatu (to know), tapi masyarakat
menempa manusia untuk melakukan sesuatu (to do) sampai akhirnya manusia itu
menjadi sesuatu (to be). Akibatnya, mereka sampai pada posisi memiliki sesuatu
(to have).
(Bob Sadino, 2009)
Hari-hari belakangan ini, saya banyak berinteraksi dengan seorang Bob
Sadino, salah satu pengusaha papan atas di.Indonesia. Beliau lah salah satu
pengusaha yang saya kenal, yang sangat dekat dengan hampir semua pemimpin
tertinggi di negeri ini, mulai dari pak Harto sampai SBY. Di rumahnya di
bilangan Lebak Bulus, ada beberapa foto yang menunjukkan hal itu. Oom (saya,
dan juga banyak orang yang dekat dengan beliau menyebutnya begitu) berfoto
bersama mereka dengan satu kostum khas, celana buntung dari bahan jeans dan hem
berbahan katun dengan lengan tidak berjahit. Berbeda dengan banyak oknum
pengusaha yang memanfaatkan kedekatannya dengan penguasa untuk kepentingan
bisnisnya, Oom melakukan hal yang berbeda. Beliau besar bukan dari
proyek-proyek pemerintah. Mungkin itu pula sebabnya, beliau bisa dekat dengan
hampir semua pemimpin di negeri ini.
Dalam beberapa perjalanan bersama, saya menemukan begitu banyak pelajaran
bagus dari beliau. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengungkap satu sisi
kehidupan beliau. Tidak hanya dari penuturan orang pertama, tetapi juga dari
orang-orang yang mendampingi beliau. Dan itu berkaitan dengan tong bolong yang
berikutnya, yaitu kerajinan. Satu hal itu lah yang membuat bisnis Oom berkibar.
Dimulai dari berjualan beberapa kg telur (padahal usahanya dimulai bukan dari
jualan telur, tetapi dari bagaimana beliau memelihara ayam) sampai jualan unit
apartemen ‘The Mansion’ yang prestisius. Sebuah proses yang memakan waktu
separuh hidupnya. Sebuah proses yang melelahkan …
Imperium bisnis seorang Bob Sadino, dimulai dari pemeliharaan beberapa ekor
ayam layer (ras petelur). Setahun berikutnya, jumlah ayamnya bertambah tetapi
pada puncak produksi hanya menghasilkan 5 kg telur. Berapa keuntungannya?
Receh, man! Dan sampai tahun sembilan puluhan, bisnis beliau memang
mengumpulkan uang receh. Kemchick, adalah unit bisnis beliau yang menjadi cikal
bakal usaha retail di tanah air. Saat ini kita mengenal timun Jepang (dan aneka
sayuran lain yang disukai orang Jepang), aneka varian tomat (untuk panggang,
sambal, juice dan sebagainya), sistem tanam hidroponik, Asal tahu saja, beliau
lah pioneernya. Dan semuanya memang ‘ngumpulin’ recehan.
4 tahun saya belajar peternakan, tak pernah sekalipun mendengar namanya
disebut dalam sejarah peternakan di tanah air. Padahal beliau lah orang pertama
yang mengintroduksi ayam broiler (ayam ras petelur) dan ayam layer (ayam ras
petelur) di tanah air. Beliau melakukan introduksi tanaman dan hewan dari luar
negeri untuk ditanam dan dipelihara di tanah air. Sebuah pekerjaan yang
dihindari oleh orang-orang pintar di tanah air karena tingginya resiko.
Perbedaan suhu, kelembaban dan faktor lingkungan lain adalah faktor penghambat
berkembangnya usaha ini. Dan beliau mau melakukannya, dan berhasil. Hanya
orang-orang dengan tingkat kerajinan yang tinggi lah, yang mampu menjalani
proses panjang ini.
Oom, adalah orang yang skeptis
pada sekolah. Sebuah pandangan yang didasarkan pada pengalaman puluhan tahun
berinteraksi dengan produk sekolahan. Sekalipun saya tidak sepenuhnya setuju,
tapi saya masih bisa menerimanya. Seperti kutipan di atas, sekolah memang lebih
banyak mengajarkan siswanya untuk tahu. Nilai tertinggi diperuntukkan bagi
mereka yang mampu menghapal dan menjawab soal ujian sesuai pengetahuan yang
diajarkan. Pengalaman empiris beliau membuktikan bahwa begitu banyak teori ala
sekolahan, tidak jalan di lapangan. Banyak aplikasi praktis, ditemukan di
lapangan, bukan di sekolahan. Dan lapangan (atau masyarakat) justru dihindari
oleh orang-orang sekolahan.
Lapangan (atau masyarakat) dihindari, karena seseorang harus melakukan
sesuatu (do). Ketika seseorang melakukan sesuatu, ada dua kemungkinan hasilnya.
Sukses dan gagal. Kegagalan lah yang membuat banyak orang menghindari kuadran
to do. Di sini, Oom mengambil jalan berbeda. Beliau masuk ke masyarakat dan
melakukan banyak hal. Kegagalannya menumpuk. Tumpukan itu kemudian menjadi
gunung kegagalan yang menjadi sumber pelajaran terbaik baginya. Dan saat ini,
beliau berdiri tegak di puncak gunung itu sambil tersenyum lebar. Beliau sudah
dapatkan sesuatu, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. From zero to hero.
