7. BOB SADINO DAN KEWIRAUSAHAAN


Bob Sadino memberikan beberapa tips untuk mereka yang benar-benar ingin membangun jiwa enterpreneurship (jiwa kewirausahaan). Ia menyarankan agar orang tidak belajar jiwa wirausaha di dalam kelas, atau dari mereka yang tidak pernah menggeluti langsung dunia usaha.
Sebab biasanya yang diberikan adalah semua saran yang didasari oleh ‘ketakutan’ sehingga segalanya dipermudah dengan ide-ide logis padahal ‘hutan’ usaha adalah sering tidak mengikuti urutan dan sistematika berpikir biasa, faktor-faktor-faktor yang kelihatannya terkontrol padahal sangat sulit menerka gerak dan dinamika pasar, saran-saran yang berlawanan dengan hukum pasar yang cenderung liar, mengabaikan unsur lain yang justru sangat penting yaitu ‘naluri’ pengusaha, dsb.
Untuk membangun jiwa wirausaha, Bob menyuruh kita untuk melihat beberapa hal berikut:
1. Kita harus membebaskan diri kita dari RASA TAKUT. Inilah halangan terbesar. Inilah alasan terbesar mengapa pendidikan memakan waktu yang lama, yaitu untuk menghindari kesalahan dan resiko. Tapi justru itulah yang ingin dipangkas oleh Bob karena ia merasa rasa takut adalah penyebab tidak berkembangnya enterpreneurship. Kesulitan dan resiko selalu menyertakan peluang. Jadi, jika kita ingin mengembangkan jiwa enterpreneurship, jangan menghindari resiko. Resiko mengandung peluang.

2. Kita harus membebaskan diri dari tidakan TERLALU BERHARAP. Belum apa-apa sudah membayangkan hitungan khayal tentang keuntungan, kemudahan, kehebatan dan hasil besar. Jika begini, maka orang mudah kecewa karena ternyata lapangan mengajarkan yang berbeda.  Orang harus belajar menghitung mulai dari angka kecil tetapi tekun dan komit. Bayangkan sukarnya dan hadapilah kesukarannya.

3. Kita harus bebaskan diri kita dari PIKIRAN SENDIRI. Biasaya berupa konsep, keyakinan, anggapan dsb. Belajarlah untuk ‘tidak tahu’ supaya pengertian masuk sebanyak-banyaknya. Lepaskan diri dari konsep-konsep, semua harus dijalani dulu dengan penuh keberanian, nanti ilmu akan datang sendiri. Itulah enterpreneurship kata Bob. Memang benar, jika kita berhadapan dengan orang yang merasa sudah tahu, kita kerepotan. Orang tidak mudah berubah karena sudah punya asumsi dulu dalam pikiran. Jadi, cara termudah mengadopsi teknik baru adalah dengan mengambil posisi ‘belajar’, ‘tidak tahu’. Atau merendahkan hati untuk menjalankan sesuatu yang baru.
Dengan ketiga kunci tersebut, Bob berharap mereka calon enterpreneur akan memakai prinsip-prinsip tadi sebagai modal mengembangkan jiwa kewirausahaan.
Nah, semoga tulisan pendek ini berguna bagi anda!




Bob Sadino : Mereka Bilang Saya Gila !
Bob Sadino sering dianggap sebagai seorang entrepreneur ikon di Indonesia. Keberhasilannya menjadi pioner di bidang agrobisnis dan agroindustri dengan bendera Kemchiks Group begitu membekas. Pergaulannya yang luas di berbagai kalangan dan kepiawaiannya berkomunikasi pun tak diragukan lagi. Tapi, yang tak kalah menarik adalah gaya Bob dalam berpakaian, berpikir, berkomentar, bersikap, dan bertindak. Inilah komentar publik ; nyentrik, unik, stylish, berkelas, provokatif, kontroversial, berani, sangat merdeka, the real entrepreneur, bahkan fenomenal. Namun, satu kalimat yang mungkin paling mewakili semua pandangan tersebut, seperti yang Bob sendiri katakan, “Mereka bilang saya gila !”
Bob Sadino juga ingin berbagi ilmunya. “Saya tidak ingin mati membawa apapun, jadi ilmu saya juga harus ditinggalkan.”


Mereka Bilang Saya Gila ! Buku ini bukan biografi, tetapi sebuah buku provokasi dan lecutan-lecutan agar orang -terutama kaum terpelajar bergelar sarjana- berani menggeser paradigmanya, bahwa teori tanpa praktik itu nonsense atau nothing. Bahwa, gerakan kewiraswastaan adalah pemicu kebangkitan Indonesia. Buku ini juga membeberkan konsep-konsep orisinil Bob tentang dunia entrepreneurship, Roda Bos Sadino, Lingkaran Bob Sadino, revolusi pendidikan, sandaran-sandaran wiraswasta, seni bisnis, dan sebuah diskusi tentang kepemimpinan nasional ideal di mata seorang wiraswasta sejati.

Bedah buku : Mereka Bilang Saya Gila !
Launching dan bedah buku ini dilaksanakan di Gramedia Matraman, pada hari Minggu 25 Januari 2009 pukul 14.00 WIB sampai selesai. Para peserta yang menghadiri acara ini terlihat begitu antusias, walaupun banyak yang tidak mendapat tempat duduk sehingga terpaksa berdiri. Tidak perlu penjelasan panjang-lebar dari para Pembicara, acara diskusi atau tanya-jawab dengan peserta segera dibuka. Om Bob (begitu biasa Bob Sadino disapa) menjawab setiap pertanyaan dengan antusias. Bahkan memberi saran-saran yang khas Beliau. Ketika salah seorang penanya diketahui masih berstatus mahasiswa, Om Bob menyarankan agar berhenti kuliah saja. Entrepreneur bukan hal yang bisa dipelajari di bangku pendidikan, hanya bisa dipelajari langsung di lapangan kerja. Kenyataan-kenyataan yang tidak mengenakkan juga bisa menjadikan seorang wiraswasta lebih tangguh dalam dunia bisnis. ” Saya tidak punya kiat untuk menjauhi stress”, begitu jawab Om Bob ketika ditanya kiatnya menghindari stress. Stress justru harus dihadapi dan dinikmati.  Menurut Om Bob lagi, sukses adalah titik kecil di atas gungung kegagalan. Jadi, kalau mau sukses, ya harus gagal dulu ! Selain itu, Om Bob juga mengajarkan untuk berbagi. Memberi kesempatan kepada orang lain. “Lebih baik banyak orang punya bisnis kecil daripada hanya ada satu orang punya bisnis besar.”

Kalau masih mau dilanjutkan, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, bedah buku sore itu harus ditutup. Para peserta yang sudah membeli buku Om Bob juga dapat meminta tandatangan dan berfoto bersama Beliau.